Peluit Kereta Api Terakhir

Peluit Kereta Api Terakhir

Peluit kereta api berbunyi nyaring, tanda perjalanan akan segera dimulai. Aku menggamit tangan kedua orangtuaku, hendak naik kereta. Orang-orang menyebutnya kereta kehidupan. Meski tak mengerti maksudnya, aku tak ambil pusing. Bagiku ini adalah kali pertama dan sudah tentu sangat menyenangkan.

Senyum lebar tak pernah lepas dari bibirku. Ibu dan ayah duduk di kiri dan kanan, mengapit aku yang tak bisa diam bertanya ini itu. Mereka tentu akan selalu di sini, setia membersamaiku hingga perjalanan usai. Menjawab setiap pertanyaan. Membantuku di setiap kesulitan.

Orang-orang bergantian naik dan turun. Beberapa dari mereka turut serta menjadi teman seperjalanan yang menyenangkan. Membuat perjalanan ini semakin asik dan seru. Namun, beberapa dari mereka sungguh menyebalkan. Tak jarang meninggalkan air mata kesedihan. Meski lebih banyak yang memberikan air mata bahagia, keceriaan, dan harapan. Perjalanan ini membuatku ingin berlama-lama bersama mereka. Tak terburu hendak sampai di tempat tujuan.

Namun, tak pernah terlintas dalam pikiranku. Pada stasiun berikutnya, ibu dan ayah pamit untuk turun. Sungguh kupikir mereka akan terus membersamaiku hingga perjalanan ini usai. Inilah saatnya, kata mereka, untuk mengakhiri perjalanan. Mereka bilang ini kereta kehidupanku, jadi aku yang akan menyelesaikannya sendiri. Segenap sesak dan air mata, kulepas mereka. Meninggalkan lubang besar di hati. Menganga.

Kereta terus saja melanjutkan perjalanannya. Tak peduli padaku yang menangis sesenggukan. Orang-orang juga terus datang dan pergi. Beberapa dari mereka mengobati rasa sakit selepas kepergian orangtuaku. Beberapa yang lain hanya datang tanpa menyapa, bahkan aku tak tahu persis di sebelah mana mereka duduk dalam gerbong kereta. Sisanya datang hanya untuk memberi kesedihan, menambah sakit pada hati yang terluka

Ya, di kereta ini aku dikenalkan pada perjumpaan dan perpisahan. Bahkan kini aku tahu, bagaimana rasanya jatuh cinta, apa itu air mata, serta bagaimana rupa kecewa. Lihatlah, bahkan aku jauh lebih dewasa sekarang. Kau lihat siapa yang duduk di sebelahku? Ya, seorang spesial yang berjanji akan terus menemaniku sepanjang perjalanan ini. Menjadi alasan bagiku untuk terus melanjutkan perjalanan ini hingga usai.

Satu hal yang aku lupa tanyakan pada ayah dan ibu dulu. Kapankah kereta ini akan sampai pada tempat tujuannya? Lihatlah, kereta ini sudah semakin ringkih sekarang. Bunyi peluitnya tak lagi senyaring dulu. Barangkali tujuan kereta ini sudah semakin dekat. Ah, bukan tak mungkin ayah dan ibu pun tak tahu kereta ini akan berjalan hingga kapan. Yang kutahu pasti, kereta ini akan berhenti di suatu tempat, sebentar lagi. Mengakhiri perjalanan panjang dengan peluit terakhirnya.

Dalam senyap aku berbisik: Duhai kereta kehidupan, tolong sampaikan jika stasiun pemberhentian terakhir sudah dekat. Aku harus bersiap-siap. Kau tahu kenapa? Ini rahasia ya. Kata ibu dulu, di stasiun terakhir aku harus berpenampilan paling baik. Menjumpai Dia yang berkenan memberikan tiket kereta ini secara cuma-cuma.

 

Peluit Kereta Api Terakhir

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *