Memahami Usaha, Menyelami Takdir

Memahami Usaha, Menyelami Takdir

Tidak ada yang sia-sia untuk sebuah usaha. Dan tidak ada kemutlakan suatu usaha selalu mendapatkan hasil sesuai keinginan atau perhitungan kita. Bagaimanapun, usaha adalah kehendak kita, sementara hasil adalah kehendak Allah.

Antara usaha dan takdir

Suatu hari, ada tamu seorang pemuda calon peserta open recruitment bersama dengan ayahnya. Mereka datang meminta penjelasan mengapa namanya tidak tercantum dalam daftar peserta yang lulus seleksi administrasi meskipun ia telah melakukan semua proses regristrasi online dengan lengkap, padahal adiknya yang bersama-sama mendaftar bisa lulus.

Menyusul tamu pertama, datang juga seorang pemuda bersama ibu-bapaknya mengeluhkan hal yang sama. Dia telah melakukan semua proses dengan lengkap dan memenuhi semua persyaratan, tapi tidak lulus, padahal temannya yang memiliki IPK lebih kecil lulus.

Mereka ingin tahu apa yang menjadi kekurangan sehingga tidak lulus untuk memastikan bahwa tidak terjadi ketidakadilan dalam proses ini. Padahal sesuai dengan pengumuman resmi, panitia tidak dapat berhubungan dengan peserta demi menghindari nepotisme dalam proses rekrutmen dan keputusan panitia bersifat final.

Seperti halnya dalam hidup, kadang kita mendapatkan takdir yang tidak sesuai dengan keinginan kita, meskipun telah berusaha sebaik mungkin. Namun kita tidak bisa menuntut ketidaksesuian takdir itu dengan alasan apapun. Di sinilah fungsi evaluasi dibutuhkan. Bagaimanapun manusia tidak ada yang sempurna. Saat kita merasa sempurna, saat itulah terlihat ketidaksempurnaan kita.

Bagaimanapun logisnya perhitungan kita, jika takdir sudah terjadi pastilah ada hikmah yang lebih baik untuk kita dibalik takdir itu. Entah untuk saat ini, ataupun di masa yang akan datang. Di sinilah fungsi tawakkal dibutuhkan. Pada akhirnya semua milikNya dan akan kembali padaNya. Kita tidak tahu, sedangkan Allah Maha Tahu.

Memahami usaha

Jika pada akhirnya semua hasil tergantung keputusan Allah, untuk apa kita berusaha? Toh bisa jadi semua sia-sia atau hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita. Kalau semua sudah ditentukan, bukankah kita hanya tinggal menjalani skenario takdirNya?

Begitu barangkali kita bertanya dalam hati. Yang mestinya kita percaya, tidak ada yang sia-sia selama kita berusaha. Bukankah Allah akan mengubah keadaan suatu kaum sesuai dengan usahanya? Meski rezeki, umur, jodoh, dan jalan hidup sudah tertulis sebelum kita dilahirkan, tapi detil apa, siapa, bagaimana, kapan, dan di mana kita mendapatkan ketentuan tersebut tergantung berbagai keadaan atas usaha kita sendiri.

Ibaratnya persamaan matematika, A = 2B + 1 + X. Jika A adalah berbagai kemungkinan hasil usaha yang telah ditentukan (takdir), B adalah ikhtiar manusia, maka ada faktor lain yang menentukan A, yakni X, kehendak Allah. Dalam setiap usaha kita ada kehendak Allah yang berperan menentukan hasil usaha kita. Doa dan perbuatan baik bisa menjadi pertimbangan Allah untuk memberikan kehendak. Itulah mengapa selalu ada harapan atas setiap usaha kita.

Menyelami takdir

Tentu saja, takdir tidak sesederhana persamaan di atas. Tidak seorangpun tahu bagaimana rumus pasti takdirNya. Segala sesuatunya memang telah ditentukan, tapi bagaimana akhirnya tergantung bagaimana usaha kita.

Takdir adalah choice of chance, pilihan dari berbagai kesempatan. Misalnya pada kegiatan berangkat menuju kantor. Ada berbagai alternatif kendaraan yang bisa kita naiki, ada berbagai kondisi yang bisa terjadi selama dalam perjalanan, dan ada beberapa kemungkinan akhir dari perjalanan tersebut. Inilah takdir yang masih bisa berubah.

Pada takdir ini kita hendaknya membuat sinergi yang baik antara usaha dan doa agar mendapat dukungan dari kehendak Allah. Setelah itu barulah kita bertawakal, yakni berserah diri sepenuhnya kepada Allah atas hasil yang akan kita peroleh setelah berbagai usaha kita. Tawakal berbeda dengan pasrah, karena tawakal harus didahului dengan usaha yang sungguh-sungguh.

Namun, ada pula takdir yang mutlak ketentuanNya. Seperti matahari yang terbit dari timur dan tenggelam di barat atau hujan deras yang datang saat kita hendak berangkat kerja dengan agenda rapat penting. Terhadap takdir ini, kita tidak memiliki kuasa apa-apa untuk menolak atau mengubahnya. Hendaknya kita bersyukur dan bersabar atas takdir ini karena pastilah ada kebaikan didalamnya yang tidak kita ketahui.

Selanjutnya, hidup mesti terus berjalan dengan tawakal: usaha seiring doa yang maksimal.

 

Memahami Usaha, Menyelami Takdir

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *