Melongok Seni di Pusat Kota New York

Seni di Pusat Kota New York

Karya pelukis, pematung dan pemotret kontemporer dipamerkan di lima pameran baru yang dimaksudkan untuk menghidupkan kembali daerah Manhattan Selatan di Kota New York, dekat tempat serangan teroris 11 September.

Daerah Wall Street di Kota New York sinonim dengan perusahaan-perusahaan besar Amerika. Ribuan pekerja yang berpakaian necis memenuhi jalan bersejarah, tempat berdiri gedung Pasar Bursa New York yang terkenal itu.

Tetapi sejak serangan terhadap gedung kembar World Trade Center di dekatnya, bisnis, baik yang besar maupun yang kecil, menghadapi tantangan yang tidak mudah.

Dalam upaya untuk memberikan nafas baru ke daerah Manhattan Selatan (Lower Manhattan) ini kelompok yang menyebut dirinya “Wall Street Bangkit” mengorganisir “Seni Di Pusat Kota”, yang membawa ke pusat pengusaha Amerika itu karya-karya seni dari daerah yang trendy di dekatnya: So Ho dan Chelsea.

Pemrakarsa “Wall Street Bangkit” Julie Menin mengatakan banyak pelukis top New York dan galeri-galeri di kota itu memadu kekuatan mereka untuk memamerkan lebih dari seratus karya senilai 17 juta dolar.

Menin mengatakan salah satu karya yang paling populer yang dipamerkan adalah lukisan oleh mendiang Andy Warhol, yang dipinjamkan dari sebuah galeri terkenal di Manhattan.

Sebuah patung tinggi berwarna kuning dan hitam karya Roy Lichtenstein, yang meninggal dunia pada tahun 1997, juga meramaikan pameran itu. Patung ini, diberi judul Tetes Tanpa Henti, tampak seperti airmata atau air dari sebuah kran yang menetes.

Juga dipamerkan karya-karya oleh pelukis-pelukis penting yang masih hidup, termasuk Jeff Koons, potret-potret anjing karya William Wegman, dan potret-potret karya Chuck Close.

Penyelenggara pameran, Menin mengatakan pameran itu diadakan di lima gedung terpisah yang juga diniatkan untuk mengundang perhatian ke daerah keuangan bersejarah di kota New York itu. Yang terbesar di antara kelima galeri yang digunakan untuk pameran itu adalah pintu masuk dari marmar yang besar, yang baru-baru ini direnovasi, di Ruang Perbankan Besar di Wall Street.

Menin menjelaskan, karya-karya anak-anak muda, berumur dari tiga sampai 18 tahun yang menyaksikan serangan itu juga dipamerkan, menunjukkan penafsiran artistik mereka mengenai daerah Manhattan Selatan ini. Salah satu karya adalah tempelan-tempelan kertas berwarna-warni dari Gedung Kembar WTC. Lainnya menggambarkan pemandangan daerah di sekitar gedung WTC yang tenang yang menunjukkan tempat-tempat bermain anak-anak dan bunga-bunga.

Robin Nahas yang bekerja di sebuah gedung yang sekarang memamerkan lima lukisan raksasa karya Julian Schnabel berjudul Topi Penuh Air Hujan, mengatakan, bahwa seni telah membantu membuat daerah bisnis itu menjadi hidup.

Perusahaan-perusahaan pensponsor memberikan ratusan ribu dolar untuk terselenggaranya pameran “Seni di Pusat Kota” ini. Para penyelenggara mengatakan proyek ini cukup sukses –- sekurang-kurangnya dua ribu turis, pekerja dan penduduk telah mengunjungi pameran ini tiap minggunya sejak pameran ini dibuka akhir bulan lalu.

 

Melongok Seni di Pusat Kota New York

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *