Home, Ruang Kreasi I Wayan Upadana

Home Ruang Kreasi I Wayan Upadana

Dalam konteks karya I Wayan Upadana, Home bukan hanya rumah tinggal, tetapi merupakan suatu ruang yang saling terpisah, tetapi masing-masing memberi energi kreatif pada Wayan, sehingga dimanapun dia tinggal di satu ruang, dia merasa akan bertemu di ruang lain lagi.

Maka, Bali sebagai ruang, dalam diri Wayan tak dilepaskan dari Yogya sebagai ruang. Keduanya memberi dukungan pada Wayan Upadana, dan kontribusi setiap ruang pada karya Wayan memiliki tekanan yang berbeda-beda.

feel’s Ini Paradise

Dengan demikian, sesungguhnya Wayan Upadana tidak bisa meninggalkan home, karena dimanapun dia melaju, artinya dia memasuki satu home ke home yang lain, dan dia akan menemukan home yang lain lagi. Maka, pameran yang dia lakukan, adalah bentuk dari pemberhentian pada satu ruang, di mana Wayan dan relasinya bisa saling berinteraksi, di satu ruang, yang dia sebut sebagai home.

Pada karya yang berjudul ”feel’s Ini Paradise”, yang menyajikan visual dua ekor babi, warna pink, sedang santai di satu ruang, yang bagi babi mungkin keseharian, tapi ruang itu, yang kita kenali sebagai wastafel, bukan ruang milik babi. Karyanya terasa sarkastis karena dua ekor babi sedang duduk santai di wastafel, layaknya di kolam renang: wajah Bali kini.

Silence Proses

Atau juga karya lain, yang diberi judul ‘Silence Proses’, menyajikan visual seorang laki-laki yang sedang duduk dalam posisi meditasi. Kepala orang mengenakan topeng, dan di dadanya, ada satu ruang kecil, yang memberikan kisah dinamika kehidupan, mungkin maksudnya ruang hati manusia, tempat ‘silence proses’ terus berlangsung.

Dua ruang saling berinteraksi dalam karya Wayan Upadana, ialah ruang sakral dan profran. Dalam kata lain, ‘home’, pada tajuk pameran bukan sekadar wilayah profan, melainkan bisa saling ulang-alik antara keduanya.

Di Bali, Wayan setiap hari akan menemukan dua ruang saling bertemu dan tumpang tindih, ialah ruang sakral dan profran. Pada rumah tempat tinggal orang Bali, selalu tersedia ruang sakral untuk berdoa, tetapi kapan berjalan dalam beberapa langkah ke luar rumah, orang Bali akan bersentuhan dengan ruang profan. Dari dua ruang ini, agaknya Wayan membangun kisah karyanya dan dipamerkan serta diberi tajuk “home’.

Upadana adalah individu sosial yang hidup dalam budaya sehari-hari di Bali. Dari ruangnya yang personal, Upadana mengekspresikan situasi ambang profan dan sakral.

Dalam situasi ambang ini, seseorang nyaris tidak memiliki pilihan. Bukan hanya cara komunikasi yang diambil alih oleh bahasa pariwisata, namun juga cara pandang yang mengesensikan Bali pada situasi yang tidak kurang lebih sama saat era Pitamaha.

Sebuah neo-firdaus Bali dengan berbagai ekspresi artifisialnya. Upaya untuk pulang ke ‘rumah’ yang dibayangkan Upadana barangkali tidak akan pernah bisa. Yang kini ia lakukan adalah melakukan sebuah ungkapan meditatif, dari batas ambang sakral dan profan dengan bahasa seni.

Silence Journey

Dalam kata lain, Wayan Upadana menggulirkan kegelisahan mengenai ruang, di mana dia membangun kreativitas sekaligus menjalankan aktivitas religi, sudah bergeser sangat jauh, ‘Home’ tidak lagi rumah tempat dia, atau orang Bali pulang, tetapi justru ‘tempat orang asing’ menikmati hidup.

Maka, melalui karya seni rupa Wayan Upadana menyajikan kisah gugatan. Tidak heroik memang, tetapi nada gugatan itu sangat terasa.

 

Home, Ruang Kreasi I Wayan Upadana

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *