Resep Cinta Soto Bangkong Semarang

Resep Cinta Soto Bangkong Semarang

Soto Bangkong jadi icon penting Kota Semarang. Soto yang ‘mukim’ di ruko samping Kantor Pos Bangkong – perempatan A Yani-Brigjen Katamso-MT Haryono itu menyuguhkan Soto sebagai menu intinya. Nama Bangkong diambil dari nama tempat di mana rumah makan ini dibangun untuk pertama kalinya.

Pertanyaannya, siapa dalang dibalik kejayaan Soto Bangkong? Ialah Soleh Sukarno. Pria yang sekarang sudah sepuh ini ialah pemilik jaringan restaurant Soto Bangkong.

Soleh yang mengawali perjalanan usahanya sebagai penjual soto keliling di akhir tahun 1950 ini pergi dari dusunnya untuk mengelana ke Semarang ini tidak dengan bekal ijazah karena dia cuman sampai kelas dua di Sekolah Rakyat (SR, satu tingkat SD jaman saat ini). Baru bekerja satu minggu pada orang penjual soto, Soleh telah dipinjamkan angkringan untuk jualan soto secara berdikari. Semenjak awalnya dia juga telah mangkal di Bangkong.

Kesabarannya jualan dan layani konsumen dengan rasa cinta, memberikannya peluang membuat kios kecil memiliki ukuran 3×4 mtr. sekitaran tahun 1957. Kios yang sampai saat ini masih berada di Bangkong itu sekarang telah berkembang cepat sesudah Soleh berusaha berjuang dengan keras dan ulet. Restorannya di Bangkong kini telah berlantai tiga.

Kesayangan itu menggerakkan Soleh masih simpan angkring dan beberapa barang yang dipakainya saat pertama kalinya jualan. Soleh pun tidak akan beralih rumah yang dibelinya pertama kalinya dan sempat jadi jaminan bank untuk jadi modal buka cabang di Daerah Baris Semarang yang padat warga

Sempat disangka jualan soto daging kodok, Soleh mengawali usaha jualan soto keliling semenjak periode penjajahan. “Saat sebelum Jepang masuk, saya telah berjualan soto di wilayah Peterongan. Saya belajar buat soto dari Bapak,” ungkapkan pria berdarah Sukoharjo yang terlahir di Klaten ini

Soleh jualan soto di Semarang sampai zaman revolusi fisik tahun 1945. “Waktu terjadi Pertarungan Lima Hari di Semarang, saya pulang ke Sukoharjo. Terus kembali ke Semarang tahun 1950 untuk berjualan soto kembali,” ingat Soleh.

Dengan turut juragan soto di wilayah Karangkojo, Soleh dipercayai bawa satu angkring soto untuk berdagang di teritori perempatan Bangkong dan sekelilingnya. “Saat itu saya telah jualan dari sisi Kantor Pos Bangkong dari jam 7 pagi. Jika kembali sepi, jam 9 malam baru pulang,” papar ayah lima anak dari pernikahannya dengan Moesinah (almarhum) itu.

Tidak Ada Resep Istimewa, cuma Cinta

Rahasia Narasi kesedapan soto Soleh menebar dari mulut ke dalam mulut dan mendapatkan panggilan Soto Bangkong. Tahun 1957, Soleh mempermanenkan nama itu dan memulai membuat warung tetap simpel dari sisi Kantor Pos Bangkong, yang masih tetap ada dan jadi pusat dari jaringan Soto Bangkong sejauh ini

Apa resep kesedapan Soto Bangkong? “Tidak ada resep rahasia. Pokoknya, jika kita suka kerjakan suatu hal, kita harus membagikan kesenangan itu ke orang lain. Dimulai dari masak soto sampai layani konsumen, saya kerjakan secara suka, agar rasa suka itu turut dirasa orang yang mengkonsumsinya,” tutur Soleh

Soto Bangkong tidak cuman dikunjungi aktris, vokalis, petinggi Kota Semarang atau Propinsi Jawa tengah sebagai konsumen setia, petinggi paling tinggi di negeri ini juga pernah tiba. “Beberapa lalu (bekas Wakil Presiden) Jusuf Kalla singgah kesini. Presiden SBY jika ke Semarang singgah kesini. Saat Gus Dur masih hidup, beliau kerap kesini,” ucapnya

Soto Bangkong sekarang bukan hanya di Jalan Brigjend Katamso, ke-5 anaknya sudah buka cabang di Jalan Setiabudi 229 Srondol Banyumanik, Jalan Magelang KM 10 Yogyakarta, Jalan Pakubuwono Jakarta, Pucuk Bogor, dan Cikampek, Jawa Barat. Jaringan Soto Bangkong sendiri telah sekarang lebih dari 20 restaurant.

“Soto Bangkong yang berada di Jalan Setiabudi diatur anak sulung saya. Dahulu ia cuman saya modali angkringan, seekor ayam dan enam mangkok soto saja. Alhamdulillah, saat ini telah berkembang,” tutur Haji Sholeh yang kakek dari 6 cucu dan 13 cicit itu.

Berapakah pendapatannya? Setoran pajaknya tahun 1997 dapat menjadi dasar. Tiap hari dia bayar pajak pembangunan kelas I Rp 150 ribu cuman untuk kota Semarang, sedang pajak pendapatannnya telah masuk kelompok Rp 900 juta ke atas /tahun.

 

Resep Cinta Soto Bangkong Semarang

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *